Kisah Ayah
Saat ini dini hari. Saya mendapati Ayah sedang bekerja, memantau tukang bangunan, tepat di saat nanti pagi kita akan merayakan Idul Fitri. Dan saya seperti bercermin. Seperti melihat diri sendiri di masa-masa kemarin sekaligus seperti melihat gambaran akan diri di masa depan. Disini, saya duduk di bawah, di sampingnya, menemani Ayah sambil menulis dengan telepon genggam.
Pejuang. Pantas kiranya Ayah mendapat gelar itu, setidaknya pejuang bagi saya dan keluarga. Perjuangan. Itu yang telah Ayah lakukan. Pikiran saya sekarang berjalan ke sebuah kisah, tentang perjuangan Ayah.
Ayah lahir di sebuah desa dengan latar belakang keluarga yang kurang menyenangkan. Maksud saya, ibu dan bapaknya berpisah disaat Ayah masih belum dewasa. Dan Ayah hidup berdua bersama ibunya. Namun “perpisahan” tersebut tidak serta-merta memisahkan hubungan antara anak dan bapaknya. Justru ini yang selalu menjadi sebuah pertanyaan bagi saya. Ayah sangat begitu bangga dengan bapaknya. Sepanjang hidup saya sekarang, tidak pernah sekalipun saya mendengar nada kekecewaan Ayah terhadap bapaknya. Ayah seperti tidak pernah terluka atas sikap bapaknya berpisah dengan ibunya itu. Yang selalu saya dengar adalah cerita-cerita “kepahlawanan” bapaknya yang begitu meng-inspirasi semangat kehidupan Ayah saya.
“Dulu mah disaat anak-anak yang lain sekolah, Ayah dibawa Aki–begitu panggilan bapaknya–ke sawah, disuruh melak pare, ngebajak, sampai panen,” itulah salah-satu bayangan penggalan pembicaraan yang pernah atau bahkan sering Ayah ceritakan.
“Aki bener-bener ngajarin Ayah untuk hidup. Bahwa hidup itu harus berjuang, ga bisa lah kita berleha-leha,” lanjut Ayah di lain ketika. Berjuang. Saya memang melihat hal itu dari hidupnya, Ayah. Saya juga selalu mendengar hal itu, dari Ibu ataupun Nenek.
“Dulu, umuran SMP, Ayah kabur dengan menjadi kenek elf–sebutan angkutan–dari desa ke Bandung, tanpa membawa sepersen pun uang. Di Bandung, Ayah berjuang di pasar,” Nenek saya suatu waktu berkisah.
Jangan berpikiran Ayah berjuang di pasar sebagai penjual dagangan besar apalagi saudagar. Bukan, bukan itu, Ayah hanya menjadi kuli yang singkat cerita saya mendengar bahwa Ayah saya memulai perjuangan dengan “berbisnis” peminjaman lampu patromaks, di pasar tentunya. Ini pun bukan pasar seperti yang dibayangkan, pasar yang menjadi arena Ayah berjuang adalah pasar kaget yang saya rasa tentunya tidak ber-izin pemerintahan. Namanya juga pasar kaget, dadakan, jadi ya tempatnya juga serba seadanya, menjamur di pinggir-pinggir pasar “resmi”, mengambil trotoar bahkan ruas jalan sebagai area untuk menggelar dagangan. Ayah saya meminjam-minjamkan patromaks-nya di kondisi pasar seperti itu. Di saat penerangan menjadi hal penting ketika sebagaian pedagang tidak mendapatkan jatah listrik dari dari pengelola pasar “resmi”.
Perjuangan penyewaan patromaks itu lambat-laun membawa Ayah saya untuk menjadi pedagang. Lagi-lagi bukan saudagar, hanya pedagang di pinggir jalan pasar.
Ayah mulai mencoba berdagang, apa saja, ini menurut cerita Nenek. Sayuran, rempah-rempah, pokoknya jualan di pasar yang saya pun tidak tahu pasti itu apa (lain waktu mungkin saya bisa mencari tahu lebih pasti akan apa jualan Ayah saya itu). Konon, semuanya ini dimulai dengan modal dengkul, alias tanpa modal, kantong kosong. Hanya memakai otak dan kemauan yang besar. Nekat! Itu kata yang langsung terlintas ketika mendengar kisah ini dari Nenek.
Wow! Sudah hampir pagi, pekerjaan Ayah pun sudah selesai, rasanya saya harus menghentikan tulisan ini, mengingat nanti pagi harus shalat Ied. Masih panjang sebenarnya apa yang ingin saya utarakan. Tetapi sudahlah, saya lanjutkan nanti siang.
Selamat pagi, malam, terima kasih atas gigitan udara dan kenyamanan saya berkisah.
Anyaman Bambu dan Seperti Bambu
Hari ini saya menemukan dua benda menarik di rumah seorang sahabat. Lihat!

Bandung Dalam Hitam Putih

Gedung BI ini menjadi salah satu lembaran “Bandung dalam Hitam Putih” karya Erland Sibuea. Sebuah kumpulan sketsa yang menampilkan segala sisi kota Bandung dari gedung, tokoh, sosial, kendaraan, sampai ke kebudayaan. Sayangnya menjadi sangat “ringan” ketika buku ini digenggam.